Beranda | Artikel
Ternyata Istighfar Beda dengan Taubat: Ini Bedanya yang Sering Terlewat
8 jam lalu

Benar, poin ini ingin ditonjolkan oleh Syaikh Taqiyuddin rahimahullahu Ta’ala, karena itu beliau menyebutkannya. Beliau hendak menjelaskan bahwa ada dua sebab, yang dengannya penghapusan dosa dapat terwujud. Yang pertama adalah taubat, dan yang kedua adalah istighfar.

Istighfar tidak mesti diiringi taubat. Karena bisa jadi ada taubat tanpa disertai istighfar, dan bisa jadi juga ada istighfar tanpa disertai taubat. Karena taubat berkaitan dengan hati, sedangkan istighfar berkaitan dengan lisan, juga terkadang berkaitan sekaligus dengan hati.

Maka, tidaklah disebut istighfar kecuali dengan permohonan ampun, yaitu dengan mengucapkan, “Astaghfirullah.” Yakni dengan melafalkan, “Astaghfirullah.” Ini merupakan permohonan ampun, maksudnya: “Wahai Rabbku, aku memohon agar Engkau mengampuni dosaku.” Agar Engkau mengampuni dosaku.

Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menghimpun dua amalan ini. Beliau bersabda, “Sungguh aku beristighfar kepada Allah dan aku bertaubat kepada-Nya.” Beliau menggabungkan antara istighfar dan taubat. Kata dan (وَ) pada hadis ini menunjukkan adanya perbedaan makna pada konteks ini, sekaligus menunjukkan penggabungan dalam satu rangkaian.

Maka kata dan di sini bermakna penggabungan sekaligus pembedaan. Dengan demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa taubat dan istighfar, keduanya sama-sama beliau lakukan. Taubat artinya adalah berhenti dan meninggalkan dosa, disertai tekad kuat untuk tidak kembali melakukannya, dan menyesali atas dosa yang telah diperbuat sebelumnya. Inilah tiga hal, sekaligus rukun dan syarat terwujudnya taubat. Siapa yang memenuhi tiga perkara ini, maka dia termasuk orang yang bertaubat.

Adapun istighfar adalah permohonan ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Terkadang seseorang terus melakukan dosa, namun ia tetap beristighfar kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Maha Pemurah. Meskipun seorang hamba masih terus terjatuh dalam dosa dan memohon ampun, Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Bahkan bisa jadi Allah mengampuni dosa-dosanya yang akan datang.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis: “Seorang hamba berbuat dosa, lalu beristighfar, maka Allah mengampuninya. Kemudian ia berbuat dosa lagi, lalu beristighfar, maka Allah mengampuninya. Ia terus berbuat dosa dan beristighfar hingga Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepadanya, ‘Lakukanlah apa yang kamu kehendaki, sungguh Aku telah mengampunimu.’”

Sebagaimana disebutkan dalam hadis. Ini merupakan bentuk rahmat Allah bagi sebagian hamba, bukan untuk semua orang secara mutlak. Jadi kita harus membedakan antara taubat dan istighfar. Istighfar adalah permohonan ampun atas dosa yang telah dilakukan, dan tidak selalu disertai dengan taubat.

Oleh sebab itu, Syaikh Taqiyuddin berkata, “Bisa jadi Allah mengampuninya, sebagai bentuk pengabulan atas doanya.” Adapun yang dimaksud doa di sini adalah istighfar,meskipun hatinya belum bertaubat dan kembali kepada Allah. Namun, apabila taubat disertai dengan istighfar, maka itulah bentuk yang paling sempurna.

Pada umumnya, orang yang mengucapkan, “Astaghfirullah wa atuubu ilaihi,” dan mengucapkannya dengan lisan serta menghadirkannya dengan hati, maka ia telah menghimpun antara istighfar dan taubat. Sebab ketika kita menyebut penghayatan hati, maka yang kami maksud dengan penghayatan hati–dan akan ada pembahasannya nanti–adalah menghadirkan makna dari kalimat yang kamu ucapkan.

Maka, ketika kamu mengucapkan, “Astaghfirullah,” Penghayatanmu terhadap istighfar ini dapat diwujudkan dengan penghayatan atas karunia, kemurahan, karunia Allah, yang dengannya Allah akan menghapus dampak dosa tersebut darimu. Dan ketika kamu mengucapkan, “Wa atuubu ilaihi,” kamu menghadirkan dalam hatimu tekad untuk meninggalkan dosa itu, menjauhinya, serta menyesali perbuatan tersebut.

=====

نَعَمْ هَذِهِ النُّكْتَةُ أَرَادَ أَنْ يُبْرِزَهَا الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَلِذَلِكَ ذَكَرَهَا أَرَادَ أَنْ يُبَيِّنَ لَنَا الشَّيْخُ أَنَّ هُنَاكَ سَبَبَيْنِ يَتَحَقَّقُ بِهِمَا تَكْفِيرُ الذُّنُوبِ أَحَدُهَا التَّوْبَةُ وَالثَّانِي الِاسْتِغْفَارُ

وَالِاسْتِغْفَارُ لَا يَسْتَلْزِمُ التَّوْبَةَ فَقَدْ تُوجَدُ تَوْبَةٌ بِلَا اسْتِغْفَارٍ وَقَدْ يُوجَدُ اسْتِغْفَارٌ بِلَا تَوْبَةٍ إِذْ التَّوْبَةُ مُتَعَلِّقَةٌ بِالْقَلْبِ وَالِاسْتِغْفَارُ مُتَعَلِّقٌ بِاللِّسَانِ وَلَهُ تَعَلُّقٌ بِالْقَلْبِ

فَلَا اسْتِغْفَارَ إِلَّا بِطَلَبِ الْمَغْفِرَةِ بِأَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ بِأَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فَهَذَا طَلَبُ الْمَغْفِرَةِ أَيْ أَسْأَلُكَ يَا رَبِّ أَنْ تَغْفِرَ ذَنْبِي أَنْ تَغْفِرَ ذَنْبِي

وَلِذَا فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا فَيَقُولُ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَجَمَعَ بَيْنَ الِاسْتِغْفَارِ وَالتَّوْبَةِ وَالْوَاوُ تَقْتَضِي الْمُغَايَرَةَ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ وَتَقْتَضِي أَيْضًا الْجَمْعَ فِي السِّيَاقِ

فَهِي لِلْجَمْعِ وَالْمُغَايَرَةِ مَعًا فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ التَّوْبَةَ وَالِاسْتِغْفَارَ كِلَاهُمَا يَأْتِي بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِذًا التَّوْبَةُ هُوَ الْإِقْلَاعُ عَنِ الذَّنْبِ وَتَرْكُهُ مَعَ الْعَزْمِ عَلَى عَدَمِ الْعَوْدِ لَهُ وَالنَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلَهُ الْمَرْءُ قَبْلُ هَذِهِ الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ وَالْأَرْكَانُ الثَّلَاثَةُ وَالشُّرُوْطُ هِيَ الَّتِي تَتَحَقَّقُ بِهَا التَّوْبَةُ فَمَنْ فَعَلَ فَمَنْ أَتَى بِهَذِهِ الْأُمُورِ الثَّلَاثَةِ فَهُوَ تَائِبٌ

وَأَمَّا الِاسْتِغْفَارُ فَهُوَ طَلَبُ الْمَغْفِرَةِ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ يَكُونُ الْمَرْءُ مُصِرًّا عَلَى ذَنبِهِ وَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ اللَّهُ كَرِيمٌ فَمَعَ إِصْرَارِ الْعَبْدِ عَلَى الذَّنْبِ وَطَلَبِهِ الْمَغْفِرَةَ يَغْفِرُ ذَنْبَهُ الْمَاضِي بَلْ رُبَّمَا غَفَرَ ذَنْبَهُ الْمُسْتَقْبَلَ

إِنَّ الْعَبْدَ لَيُذْنِبُ فَيَسْتَغْفِرُ فَيَغْفِرَ لَهُ ثُمَّ يُذْنِبُ فَيَسْتَغْفِرُ فَيَغْفِرَ لَهُ فَمَا زَالَ يُذْنِبُ وَيَسْتَغْفِرُ حَتَّى يَقُولَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ افْعَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ

كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ هَذَا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ لِبَعْضِ النَّاسِ لَا لِمُطْلَقِ النَّاسِ إِذًا يَجِبُ أَنْ نُمَيِّزَ بَيْنَ التَّوْبَةِ وَبَيْنَ الِاسْتِغْفَارِ الِاسْتِغْفَارُ طَلَبُ الْمَغْفِرَةِ أَيْ مَغْفِرَةُ الذَّنْبِ الَّذِي فَعَلْتَهُ وَلَا تَلَازُمَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ

نَعَمْ وَلِذَلِكَ قَالَ الشَّيْخُ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ يَغْفِرُ لَهُ إِجَابَةً لِدُعَائِهِ الدُّعَاءُ هُوَ الِاسْتِغْفَارُ وَإِنْ لَمْ يَتُبْ قَلْبُهُ وَيُنِيبُ فَإِذَا اجْتَمَعَتْ التَّوْبَةُ وَالِاسْتِغْفَارُ فَهُوَ الْكَمَالُ

وَفِي الْغَالِبِ أَنَّ مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَكَانَ تَلَفُّظُهُ بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ بِاللِّسَانِ وَالْقَلْبِ مَعًا فَإِنَّهُ يَكُونُ جَامِعًا الثِّنْتَيْنِ لِأَنَّنَا عِنْدَمَا نَقُولُ ذِكْرُ الْقَلْبِ فَإِنَّنَا نَقْصِدُ بِذِكْرِ الْقَلْبِ وَسَيَأْتِي الْإِشَارَةُ إِلَيْهِ نَّ الْمُرَادَ بِذِكْرِ الْقَلْبِ هُوَ اسْتِشْعَارُ مَعْنَى الْكَلِمَةِ الَّتِي تَلَفَّظْتَ بِهَا

فَعِنْدَمَا تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ اسْتِشْعَارُكَ لِلِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَسْتَشْعِرَ فَضْلَ اللَّهِ وَكَرَمَهُ وَمِنَّتَهُ حَيْثُ سَيَمْحُو أَثَرَ هَذَا الذَّنْبِ عَنْكَ وَحِينَمَا تَقُولُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ تَسْتَشْعِرُ أَنَّكَ سَتُقْلِعُ عَنِ الذَّنْبِ وَأَنَّكَ مُمْتَنِعٌ مِنْهُ وَأَنَّكَ نَادِمٌ عَلَى فِعْلِهِ


Artikel asli: https://nasehat.net/ternyata-istighfar-beda-dengan-taubat-ini-bedanya-yang-sering-terlewat/